6.6. Analisis Blindspot - LOKERPEDIA
News Update
Loading...

Saturday, February 20, 2021

6.6. Analisis Blindspot

Menghindari "kesalahan fatal" umum dalam pengambilan keputusan

Menghindari pengambilan keputusan blindspots.

Mengapa keputusan hati-hati diteliti begitu banyak salah? Salah satu alasan adalah bahwa pembuat keputusan gagal mempertimbangkan faktor-faktor kunci - dengan konsekuensi sering menciptakan bencana.

Kita sering mengatakan hal-hal seperti, "Aku punya sedikit blindspot ketika datang ke desain Anna", mengakui bahwa ada area kami pengambilan keputusan di mana kita tidak cukup  ketat seperti yang kita inginkan. Namun, jika kita menyadari satu blindspot pribadi, kita mungkin tidak menyadari berapa banyak orang lain yang kita miliki.

Tapi bagaimana kita mampu mengidentifikasi kegagalan jarang dalam membuat keputusan, mengingat bahwa, oleh alam, "tersembunyi" dalam sebuah blindspot?

Jawabannya adalah menggunakan menggunakan Analisis Blind Spot. Teknik ini membawa Anda melalui audit sistematis buat membuat keputusan Anda. Salah satu cara buat melakukan ini adalah buat mempelajari pengambilan keputusan terhadap daftar blindspots umum. Daftar tersebut pertama kali disusun sang Michael Porter pada tahun 1980 "Competitive Strategy" bukunya, dan selanjutnya dikembangkan oleh Gilad, Gordon dan Sudit pada tahun 1993 artikel mereka "Kesenjangan Mengidentifikasi & Intelijen Kompetitif Blindspots dalamdanquot;.

Analisis blindspot bukanlah sebuah alat dalam pengambilan keputusan itu sendiri. Sebaliknya, itu merupakan jaring pengaman yang dapat Anda pakai buat menilik kualitas keputusan Anda.

Jenis blindspot yang Umum

Karya orisinil pada blindspots mengkategorikan difokuskan pada blindspots dalam perumusan strategi. Namun, poly blindspots yg ditemukan dalam pengambilan keputusan strategis bisa terjadi di jenis-jenis pengambilan keputusan, & ini adalah apa yang kita fokuskan pada sini:

Tinjauan Analisis Blindspot

Bagian berdasarkan intelijen kompetitif melibatkan tahu bagaimana orang menciptakan keputusan-& kebanyakan orang menciptakan keputusan rasional atau irational (emosional). Namun, analisis lingkungan yg kompetitif di mana orang tidak bisa ditebak sangat mempertinggi kompleksitas analisis kompetitif, sebagai akibatnya model intelijen paling tradisional kompetitif sudah diasumsikan dengandanquot;rasionalitas optimaldanquot;. Sementara asumsi ini berlaku pada masalah-masalah eksklusif, membatasi penerapan analisis kompetitif awal buat menyelidiki pengambilan keputusan strategis.

Analisis blindspot adalah evolusi menurut analisis kompetitif tradisional lantaran mengintegrasikan kerangka berbasis konduite dalam teori rasional klasik. Hal ini menghilangkan persepsi Bias individu, sebagai akibatnya analisis yang lebih akurat dan peningkatan pengambilan keputusan strategis.

Tujuh Sumber Umum Blindspots

  1. Asumsi valid

Menurut Gilad (1994), 3 asumsi yg berbahaya terdapat pada perusahaan. Asumsi pertama disebut perkiraan tertandingi. Hal ini acapkali ada pada perusahaan yang budayanya begitu menerima bahwa karyawan nir mempertanyakan pekerjaan orang lain. Asumsi ke 2 dianggap mitos perusahaan, & timbul ketika perusahaan menciptakan perkiraan menurut sejarah perusahaan yg tanpa empiris saat ini. Asumsi terakhir adalah tabu perusahaan. Ini merupakan perkiraan tersentuh yang menciptakan bukti diri budaya perusahaan-menanyai mereka menyiratkan mengganti semua budaya organisasi.

  1. Kutukan pemenang

Kutukan pemenang terjadi saat perusahaan overpays untuk pembelian. Beberapa alasan ada buat ini: beberapa penawar & ketidakpastian harga, kekurangan analitis, berlebihan manfaat sinergi. Kutukan pemenang bisa mengakibatkan beberapa perusahaan buat membayar lebih buat tujuan strategis seperti ekspansi kapasitas, pangsa pasar dan masuk bisnis baru.

  1. Komitmen Meningkat

Tanggapan rasional untuk investasi negatif adalah untuk menganalisis kembali, mengubah taktik, atau menaikkan asal daya. Proporsional pengambil keputusan strategis memilih buat menaikkan sumber daya pada asa putus asa buat menaikkan kinerja, sering membangun kerugian lebih lanjut sebagai gantinya.

  1. Terkendala Perspektif / Bingkai Terbatas Acuan

  2. Hal terlalu percaya

  3. Perwakilan Heuristic / Penalaran dengan Analogi

  4. Informasi Penyaringan

Kekuatan dan Keuntungan

Kekuatan sebenarnya dari analisis blindspot adalah yg menyediakan metholodology proaktif buat mengidentifikasi kelemahan pada sistem perusahaan intelijen kompetitif sebelum hasil ini merupakan kelemahan pada kinerja memburuk. Artinya, dia menyediakan sistem peringatan dini bahwa sistem peringatan dini perusahaan rusak & mengikis daya saing perusahaan. Analisis blindspot pula dapat digunakan untuk mendefinisikan filosofi buat analisis strategis dan karenanya memandu penggunaan alat strategis lainnya. Ini adalah biaya efektif & dapat diimplementasikan di semua perusahaan.

Kelemahan

Blindspot mungkin sangat bermanfaat dalam mendeteksi blindspot perusahaan, tetapi menaruh sedikit dasar untuk benar-benar menghilangkan blindspot tadi. Banyak perusahaan sulit mengeluarkan blindspots berdasarkan analisis kompetitif mereka lantaran politik dan sejarah perusahaan. Blindspots mampu begitu berkelok-kelok ke dalam budaya perusahaan yang menghilangkan mereka risiko stabilitas menurut desain organisasi perusahaan. Oleh karenanya, seringkali pemimpin perusahaan menyadari blindspots mereka sendiri namun mereka memilih buat nir menghilangkan mereka.

Blindspots pada Etika dan Kontribusi mereka terhadap Krisis Keuangan

Krisis keuangan pada Alaihi Salam nir hanya akibat dari pengambilan keputusan yang tidak baik namun pula lantaran penurunan standar etika di sektor keuangan sebelum krisis. Oleh karenanya Sebuah pertanyaan kunci pada tahu penyebab krisis keuangan adalah buat tahu bagaimana blindspot ini dalam etika terjadi sebelum dan selama krisis keuangan. Secara khusus, kita perlu tahu mengapa karyawan tidak etis & pemimpin dipekerjakan pada organisasi-organisasi ini, & juga jika nilai-nilai historis terhormat karyawan entah bagaimana berubah selama periode ini.

Analisis blindspot umumnya digunakan dalam intelijen kompetitif buat mengidentifikasi kelemahan pada taktik. Namun, kita juga dapat menerapkannya dalam jiwa insan, & menggunakan demikian tahu bagaimana pelanggaran etika terjadi & lalu memasukkan dimensi moral ini sebagai strategi masa depan buat mencegah terjadinya serupa. Blindspot analisi sangat bermanfaat pada tahu kekurangan kita pada penilaian kita mengenai konduite moral, baik dalam diri kita sendiri & orang lain. Sementara poly asal blindspots ada, kerangka acuan & persepsi adalah kunci dalam evaluasi kami kemampuan moral individu.

Kerangka acuan menginterpretasikan informasi luar, & menyimpulkan tindakan yang akan diambil mengingat informasi tadi. Tetapi, kebanyakan orang-orang nir dapat menangani ketegangan mental pengolahan semua perspektif tentang suatu masalah, dan menggunakan demikian blindspots terjadi. Ketika mengamati orang lain, orang memisahkan persepsi ini sebagai dua frame: bingkai moral & kompetensi bingkai [Rosenberg et al.1968].

Bingkai moral yang mencakup ciri seperti amanah, murah hati, altruistik, & baik, sedangkan kompetensi meliputi karakteristik seperti sanggup, cerdas, efisien, kreatif, & bertenaga. Blindspots etika terjadi ketika bingkai seorang acuan hanya mempertimbangkan kerangka kompetensi dan merindukan bingkai moral. Sayangnya, jenis ini penilaian nikmat seorang individu yg tidak hanya mempunyai keyakinan moral, namun jua cukup kompeten buat menyembunyikan konduite amoral & demikian terus tindakan ini.

Internal Blindspot Etis: Lupa Ethical Diri kita

Fokus kita pribadi pada kompetensi diri kadang-kadang mampu mengakibatkan kita mengabaikan kewajiban moral kita, membuat blindspot dalam tindakan yg kita ambil & bagaimana kita menampilkan diri pada orang lain. Pertama, poly orang menilai diri mereka sendiri terutama dalam hal kompetensi, bukan moralitas. Ini berarti bahwa kebutuhan harga diri kita tak jarang dikaitkan dengan kompetensi dan belum tentu moralitas.

Dengan demikian, ada risiko berdasarkan blindspot moral yang waktu kita terlibat pada pekerjaan yang tidak membangun kompetensi kita. Menurut teori ini, seorang profesional modern mungkin lupa tugas moral mereka bila mereka melihat bahwa menerapkan tugas mereka merupakan dengan mengorbankan kompetensi mereka. Sebuah output menurut teori ini merupakan bahwa para profesional cenderung menjadi moral apabila mereka tidak terlibat dalam pekerjaan mereka. Hal ini diperburuk sang anak usia dini pelajaran moral kita berteman etika terutama buat situasi sosial.

Sejak awal kita landasan moral diajarkan di usia muda oleh orang tua kita, konteksnya merupakan eksklusif sosial dan atau berorientasi keluarga. Oleh karenanya mungkin bahwa kita hanya berafiliasi etika situasi sosial dan loka kerja merupakan blindspot potensi etika kita.

Fokus kita dalam kompetensi diri juga menghipnotis kemampuan kita untuk mengirim frekuwensi yang tepat pada orang lain. Ketika kita masuk ke dalam situasi yang panggilan bagi kita untuk mengekspresikan pandangan moral kita sendiri, kita malah menyajikan pandangan tentang kompetensi kita sendiri dan oleh karenanya kita tidak benar dievaluasi oleh orang lain pada kurang lebih kita, membentuk blindspot pada orang lain persepsi moralitas kita.

Eksternal Blindspot Etis: Bagaimana Kita Evaluasi Etika Lainnya

Ketika orang menilai orang lain, mereka terutama berkaitan dengan kesejahteraan mereka sendiri, dan khususnya apakah atau tidak mereka bisa mempercayai individu lain. Lantaran itu, ketika mengevaluasi orang lain, orang cenderung lebih menekankan dalam frame moral yg dibandingkan menggunakan bingkai kemampuan.

Menurut Efek Dominasi (Wojciszke 2005), kita pula lebih menekankan pada aspek negatif dibandingkan dengan aspek-aspek positif berdasarkan bingkai moral. Jika kita bertemu seseorang yg kita merasa mempunyai aspek moral yang positif & negatif, kita segera penekanan dalam aspek-aspek negatif dan melupakan aspek-aspek positif bukti diri moral mereka. Ini menciptakan blindspot dalam analisis kita tentang orang, membuatnya sangat sulit buat sahih mengevaluasi seorang.

Kebanyakan tindakan orang mempunyai beberapa derajat kecil amoralitas, tetapi seringkali ketika mengevaluasi seorang ini ditiup jalan keluar berdasarkan proporsi, dan bisa merusak pengakuan tindakan moral yg positif seseorang telah merogoh.

Blindspots Etika dalam Kepemimpinan

Persepsi kepemimpinan menggunakan karyawan didominasi terutama sang kerangka moral referensi. Hal ini mungkin ditimbulkan kabar lebih lanjut tersedia dalam kinerja moral mereka dibandingkan menggunakan kinerja (Caplow 1976).

Sekali lagi, ini membentuk pertarungan antara kebutuhan pemimpin buat berbagi kompetensi diri dan dan proyek sikap moral. Oleh karenanya, sering dalam situasi yang membutuhkan pemimpin buat mengekspresikan moralitas mereka, mereka malah menentukan buat mengekspresikan agama diri & profesionalisme. Hal ini dalam gilirannya memaksa pulang budaya perusahaan yg mentolerir kurangnya etika, & karyawan fokus dalam kinerja mereka menggunakan mengorbankan etika.

Persepsi karyawan dengan pemimpin didominasi kerangka kebalikan menurut referensi-kompetensi. Ketika manajer mengevaluasi karyawan, penekanannya adalah pada kinerja, bukan dalam tindakan moral karyawan. Hal ini menyebabkan banyak manajer kehilangan karyawan yang kasus etika masa depan, atau mereka atribut kasus kasus kinerja.

Hal ini membantu buat membangun budaya perusahaan di mana pelanggaran etika ditoleransi, dan karyawan mulai berpikir perilaku misalnya Bab Sebelumnya

Home | Bab Sebelumnya | Menu | Bab Selanjutnya

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done